Jumat, 10 April 2020

CORONA VIRUS MENGGUNCANG DUNIA

CORONA VIRUS MENGGUNCANG DUNIA

Virus corona atau coronavirus (CoV) merupakan keluarga virus yang menaungi virus SARS-CoV-2 yang terjadi saat ini, SARS-CoV pada 2002, dan MERS-CoV pada 2012. Corona virus ini pertama kali muncul diprovinsi Wuhan negara China dan menjadi tajuk pembahasan utama masyarakat belahan dunia. Berita ini tersebar luas dibulan Januari 2020 dan menjadi perbincangan hangat setiap negara. Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.

Virus ini adalah virus yang menular baik itu ke orang lansia, dewasa, remaja, anak-anak dan bayi. Virus ini adalah virus yang sangat berbahaya dikarenakan tersebar dengan cepat dan mudah. Masyarakat belahan dunia harus berantisipasi dan menjaga kebersihan diri agar bisa dijauhi dan tidak terinfeksi dari virus tersebut. Dengan adanya virus corona ini, dunia dibuat pembar oleh kemunculannya. Sudah banyak korban yang meninggal diakibatkan virus corona, terlebih lagi orang yang dikategorikan positif dan dalam masa pengawasan rumah sakit. 
Tidak hanya masyarakat di China yang terinfeksi virus tersebut, saat ini virus itu sudah masuk ke negara Indonesia dan negara lainnya dibelahan dunia. Beberapa bulan yang lalu tepatnya di bulan januari-februari pemerintah belum tanggap mengenai kasus virus corona. Pemerintahan Indonesia awalnya tidak mengantisipasi dan siap siaga terhadap rakyat Indonesia yang bepergian keluar negeri, dan dengan mudah saja menerima orang asing masuk ke negara Indonesia. Saat itu tidak ada pembatasan bagi orang yang keluar masuk di negara Indonesia tercinta ini. Itulah salah satu sebab dan akibat awal mula masuknya virus corona di negara Indonesia.

Pada 25 Februari, Presiden mengatakan bahwa pemerintah terus mencermati dampak penyebaran wabah virus corona bagi perekonomian global untuk Indonesia, Pemerintah memaksimalkan anggaran perekonomian dalam negeri pada saat ini. Nah dilihat dari keterangan yang dijelaskan oleh presiden Indonesia pada 25 Februari yang lalu, pemerintah baru membahas dan merancang terkait perekonomian untuk berbagai daerah yang ada diseluruh Indonesia. Hal ini saya rasa untuk mengantisipasi dan menyiapkan kebutuhan agar masyarakat Indonesia tidak terbengkalai dalam urusan ekonomi.
Hari demi hari berlalu, pada bulan Maret 2020, akhirnya yang tidak nampak tiba-tiba muncul dan membuat pembar masyarakat Indonesia yang ada di 34 provinsi. Ada beberapa masyarakat yang dikatakan positif virus corona. Hal ini dibuat geger masyarakat Indonesia sejagat raya. Tidak hanya itu, pemerintahpun kocar kacir untuk mengadakan pertemuan guna membahas dan mempertimbangkan keputusan yang akan dipilih. 

Tepat pada Senin, 16 Maret 2020 seluruh pendidikan dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan Perguruan Tinggi diliburkan dari kegiatan ngajar-mengajar melalui tatap muka. Pemeritah memberikan informasi melalui media bahwa system belajar maupun kegiatan apapun yang dilakukan oleh rakyat harus menggunakan social distancing untuk membatasi interaksi antar manusia, menjaga jarak, mengurangi kerumunan orang, dan untuk memutus penyebaran virus. 
Angka penularan COVID-19 di Indonesia semakin meningkat, pertumbuhan jumlah kasus masyarakat yang terinfeksi semakin banyak, sejak diakhir bulan Maret dan diawal bulan April sudah mencapai seribuan jiwa yang dikatakan positif, dan ratusan orang meniggal dunia. Kini kondisi semakin memprihatinkan, namun dengan begitu sebagai masyarakat kita harus selalu menjaga kondisi tubuh dan kesehatan kita agar tidak tertular dari COVID-19 tersebut.

KELUHAN MAHASISWA MENGENAI COVID-19

Besirin salah satu mahasiswa Psikologi Islam berpendapat bahwa, menurutnya perkulian Online ini kurang efektif,  tidak semua mahasiswa/i selalu standbye didepan HP terutama saya, ujarnya. Dan terkadang ada beberapa mata kuliah yang sulit dipahami kalau hanya diskusi lewat Gruop sosial media. Salah satunya iyalah yang berhubungan dengan matematika. Sebaiknya pemerintah segera mencarai solusi dan mengkaji lebih lanjut sistem perkuliahan online ini, karena terkadang yang kuliah dengan tatap muka saja susah untuk paham apa lagi kuliah online malah makin runyam, menurutnya. 

Apriliani, salah satu mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam berpendapat bahwa, menurut saya kuliah online sangat kurang efektif, dosen bisa memberikan tugas kepada mahasiswa sewajarnya saja dikarenakan kami harus menghemat kuota agar bisa mengikuti perkuliahan online. Jika sudah ada diskusi atau presentasi di grup atau dll dimohon dosen mempertimbangkan lagi, jika memberikan tugas ya tugas aja, kalo presentasi ya presentasi aja. Jangan memakai aplikasi zoom atau semacamnya, karena itu sangat mahal, menguras kuota, dan juga tidak efektif. Dosen harus bisa memaklumi referensi tugas yang dikerjakan oleh mahasiswa. Dan juga absensi kelas tidak efektif.

Aini Putri Rahmani dari HM-PS Komunikasi dan Penyiaran Islam berpendapat bahwa, Logic kok diadakannya kuliah online karena dengan kondisi Indonesia saat ini tidak banyak yang bisa kita semua lakukan. Mengapa online? Yaa karna itu adalah cara terakhir yang dapat kita lakukan. Karena himbauan pemerintah yang mengharuskan kita untuk dirumah aja. Sekali lagi mengapa online? Karena tidak ada pilihan lain untuk kita kuliah tatap muka langsung. Jika ada solusi/pendapat lain yang sekiranya bisa kita lakukan saat ini. Kalau dibilang efektif atau tidak. Saya kembalikan kepada individu masing² dalam menyikapi hal ini. Jika memang kurang efektif, jangan sepenuhnya salahkan sinyal, aplikasi, dll. Mungkin permasalahannya ada di diri kita yang kurang membaca sehingga sulit memahami materi. Lebih baik kita sama-sama introspeksi diri dulu. Dan menurut saya, kita semua kurang bisa menyesuaikan diri mengapa? Karena selama ini internet hanya kita gunakan untuk hal-hal yang bahkan tidak penting. So, dari sekarang kurangi mengeluh, dan berusaha maksimal sesuai dengan kemampuan & kondisi kawan-kawan semua. Ketika di dalam diskusi atau materi ada yang kawan-kawan tidak pahami, kan masih ada cara lain. Contohnya Private Contact (PC) dengan dosen yang bersangkutan tentunya menggunakan kata-kata dan kalimat yang sopan.   Yakin dan Percaya saja dosen pun pasti akan mengerti keadaan mahasiswanya. Pertama, yang saya pribadi inginkan adalah tidak setiap pertemuan diberikan tugas. Karena bukan hanya satu mata kuliah saja yang kita kerjakan tugasnya. Belum lagi dengan kawan-kawan yang terkendala ekonomi nya sehingga mengharuskan mereka menahan lapar hanya untuk membeli kuota. Kedua, jika memang perkuliahan ini dilakukan dalam jangka waktu panjang, bisa saja pihak kampus untuk mengembalikan uang daftar ulang bukan tidak mungkin hal ini bisa saja dilakukan biarpun ga sepenuhnya dikembalikan. Ketiga, kuliah online hanya diadakan melalui e-learning yang sudah disebarkan. Dan dosen pun wajib menggunakannya. Karena dari Indosat pun telah memberikan bonus untuk keadaan kita sekarang. Jika pun ingin melakukan perkuliahan tatap muka hanya sekali-kali saja, masih banyak juga kok aplikasi yang bisa kita gunakan contohnya wa, dan google classroom. 

Nah, ini juga merupakan salah satu dampak dari penyebaran COVID-19 yang melanda mahasiswa, sehingga banyak mahasiswa yang berfikiran negatif mengenai kuliah online yang diterapkan oleh pemerintah dan pihak kampus. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah sudah sangat baik dengan maksud dan tujuan untuk memutus penyebaran virus tersebut, dan juga agar generasi penerus bangsa masih tetap utuh terjaga. Jika dilihat dari sisi positif dan negartifnya tentu sangat banyak. Akan lebih baik, kita sebagai kaum yang berpendidikan mengikuti arahan dari pemerintah agar sedikit mengurangi beban mereka dengan cara berdiam diri dirumah saja. Dengan begitu para dokter yang sedang berperang menghadapi virus tak kasat mata tersebut sedikit ringan dengan bantuan yang kita jalankan untuk membantu mereka mengurangi pasien agar tidak bertambah.  

MENCARI ILMU MELALUI DISKUSI ONLINE

Nah teman-teman sekalian, mencari ilmu adalah tugas kita sebagai orang yang terpelajar, ilmu bisa kita dapatkan dimanapun selagi kita mencarinya. Disini saya ingin berbagi mengenai ilmu yang saya dapatkan dar diskusi online bersama Prof.  Dr. H. Abu Rokhmad, M. Ag. Beliau adalah salah satu anggota FKUB di Jawa Tengah. Saya sangat bersyukur bisa berdiskusi secara online dan mendapatkan ilmu yang dijelaskan oleh beliau. Disini Prof Abu menjelaskan tentang umat manusia sudah mengenal wabah/ pandemi. Zaman rasul ada wabah thoun. Zaman khilafah abbasiyah juga ada. Pada masa modern kita mengenal wabah flu spanyol. Dan seterusnya hingga sekarang. Wabah corona mungkin bukan yg terakhir. Setiap ada wabah, semua terkejut dan negara gagap. Itu bisa dimaklumi karena wabah datangnya mesti mendadak, skala besar dan cepat. Semua pihak pasti tdk siap dengan sarana prasarana termasuk obatnya. Karena itu, melihat skalanya, sebarannya, penularan yang cepat dan fatality rate yang tinggi, maka corona bisa disebut sebagai disease of 21 century.

Prof.  Dr. H. Abu Rokhmad, M. Ag berpendapat bahwa, . Tidak ada strategi yang 100 % tepat untuk diterapkan bagi masing masing negara. Setiap negara kekhasan wilayah dan karakteristik penduduk yg beda-beda. China mungkin tepat menggunakan lockdown (karantina wilayah/ menutup daerah supaya orang tdk bisa keluar dan masuk). Mengapa china berhasil?. 
NegaraChina merupakan negara sosialis/ komunis (meski sekarang juga tampak sangat kapitalis) dengan ciri khas strong leaders. Pemerintahnya otoriter. Secara ekonomi, China kuat dan mampu menyediakan logistik yang cukup untuk penduduknya. Penduduk china relatif disiplin dan taat pada pemerintah. Berbeda dengan Italia, strategi lockdown justru membuat peningkatan penduduk yang terinfeksi makin banyak dengan tingkat kematian yang sangat tinggi melebihi china.

Masing masing strategi ada plus dan minusnya. Kebijakan yang diambil presiden Jokowi bukan lockdown (dengan arti menutup atau karantina wilayah). Presiden menyebut PEMBATASAN SOSIAL BERSKALA BESAR (PSBB). Saya memiliki pandangan bahwa, strategi ini bersifat moderat dan tidak ekstrim. Mengapa ? Hal itu dikarenakan PSBB: Konteks penduduknya tidak seperti penduduk China. Negara tidak mampu menjamin kebutuhan logistik penduduk. Lockdown beresiko sangat tinggi, terutama kalo tetap gagal mengantisipasi sebaran COVID-19. Resiko sosial dan ekonomi mungkin bisa terjadi penjarahan jika rakyat kelaparan. Resiko politiknya juga tinggi, terutama ketika pemerintah gagal. Maka muncul ketidak percayaan rakyat kepada pemerintah.

Bagaimana dampak lockdown bagi ketatanegaraan kita? Istilah lockdown tidak dikenal dalam istilah hukum Indonesia. Kita punya istilah: darurat militer, darurat sipil yg tercantum dlm perpu 23 59. Kita punya istilah karantina wilayah yang disebut dalam uu 6/ 2018 tentang kekarantiaan kesehatan. Kita punya istilah darurat/ tanggap darurat dlm uu kebencanaan. Berdasarkan argumentasi di atas, pemerintah menggunakan istilah TANGGAP DARURAT dengan strategi PSBB. Secara substansi? Tanggap darurat dengan strategi PSBB sesungguhnya juga lockdown dalam pengertian yang moderat. Andaikata situasi ini makin memburuk, pemerintah sudah menyediakan opsi darurat sipil. Mungkin istilah ini bisa menggantikan istilah lockdown. Dalam situasi darurat sipil, bangunan ketatanegaraan kita bisa goyang. Penguasa darurat sipil adalah presiden/ panglima tertinggi TNI. Dalam situasi darurat, lembaga-lembaga negara sudah pasti mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Jika darurat sipil gagal mengendalikan keadaan, bukan hanya bangunan tata negara yang goyang, bahkan NKRI bisa runtuh.
Sebagai catatan akhir, kita percaya pemerintah mampu mengendalikan keadaan ini. Tentu saja rakyat harus disiplin menjalankan instruksi pemerintah. Yang kita hadapi itu musuh yang kecil. Tidak kelihatan, menyebar dengan mudah dan sangat cepat. Pemerintah dan rakyat harus kompak dan kerja sama erat untuk mengendalikan dan menghentikan virus ini. Sepanjang sejarah, manusia selalu menang melawan virus. 

Nah gaes, itulah yang dijelaskan oleh Prof.  Dr. H. Abu Rokhmad, M. Ag. Dan kesimpulannya adalah Wabah tersebut sudah ada sejak dahulu. Kita harus pahami bersama bahwa memang semua elemen masyarakat akan gagal dan tidak siap menghadapi wabah apapun. Termasuk covid 19 ini yang bisa disebut dengan Disease of 21 Century.  Tidak ada startegi yang 100% tepat dan terjamin keampuhannya untuk diterapkan. Sebab semua kembali kepada karakteristik wilayah dan penduduk yang majemuk. Setiap strategi dalam kebijakan memiliki dampak positif dan negatifnya. Untuk pemerintah Indonesia menerapkan sampai saat ini Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Istilah hukum Indoensia tidak mengenal Lockdown, namun hanya mengenal Darurat sipil untuk mewakili istilah Lockdown ketika menghadapi situasi genting. Jika darurat sipil gagal mengendalikan keadaan, bukan hanya bangunan tata negara yang goyang,  bahkan untuk NKRI sekalipun bisa runtuh. Disini kita sebagai masyarakat harus percaya pemerintah bisa mengendalikan kondisi ini. Namun dengan syarat rakyat harus disiplin dan tertib dalam menjalankan instruktur pemerintah. Perlunya kesadaran dalam diri sendiri agar semua dapat terkondisikan dengan baik dan lanca.

Sebagian bukti Tuhan bahwa dunia dan seisinya adalah pertanda dari kebesaran-Nya. Sebagai makhluk yang menghambakan tuhan, kita sebaiknya hidup dengan kebijakan yang sudah ditentukan. Menjalani apa yang semestinya dijalani. Dengan adanya musibah yang menimpa seluruh makhluk yang ada didunia menyisakan tangis haru yang membuat kebanyakan orang merasakan kehilangan, ini adalah salah satu pertanda bahwa Tuhan maha besar, apapun bisa terjadi sesuai dengan keinginan-Nya. Sebagai makhluk kita hanya bisa berdoa dan bertawakal bahwa sesudah ada musibah tentu menyisakan hikmah yang luar biasa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar