AKU DAN KAMPUNG HALAMANKU
Bagiku pengalaman adalah segalanya.
Melalui waktu aku memahami sesuatu. Banyak teka teki kehidupan dalam relung waktu yg panjang. Dalam ranah waktu banyak retorika yg terjadi, melalui alur dinamika yg tidak diketahui, waktu selalu menjadi pertanyaan dari sang perbendaharaan tersembunyi.
Kehidupan ini hakikatnya seperti belajar untuk mengenal, dan waktu adalah perantara dari pengenalan itu.
Kampung halaman, seharusnya kampung adalah sebuah desa yang berada dipedalaman daerah, namun aku tidak memiliki desa. Aku lahir di sebuah kota yang berada di Kalimantan Barat, yaitu kota Pontianak, walaupun disebut kota, Pontianak adalah tempat dimana aku dibesarkan, Pontianak adalah kampung halamanku.
Aku tinggal ditegah kawasan kota yang tak jauh dari jalan raya. Dulu ketika aku kecil, pada saat usiaku beranjak 5 tahun aku masuk ke salah satu TK yang berada di Pontianak yaitu TK Baitul Jama’ah Pontianak. Disinilah aku memulai cerita gembiraku yang mana pada saat itu, untuk pertama kalinya aku belajar membaca, menulis, dan berfikir. Aku menyadari bahwa saat itu aku sudah besar, jadi aku harus mulai mandiri.
Pada saat usiaku berumur 5 tahun, kondisi perekonomian ayahku hanya seadanya saja, aku terlahir dari keluarga yang kurang mampu namun berkecukupan. Ayahku hanyalah seorang buruh semen, pekerjaan ayah pada saat itu sangatlah berat dikarenakan harus mengangkat semen yang jumlahnya tidak sedikit. Kami sekeluarga tidak mempunyai rumah pribadi untuk tetap tinggal. Aku, ayah, ibu dan adikku menumpang dirumah nenekku, kami berada ditengah lingkungan masyarakat yang memiliki berbagai macam jenis latar belakangnya.
Tempat dimana aku tinggal, banyak sekali kutemukan hal-hal yang aneh. Mata pencaharian masyarakat disekitar berbagai macam jenis seperti buruh, tukang bangunan, tukang sampah dan banyak lagi yang lainnya.
Hidup di tengah masyarakat kota sangatlah sulit, selain sulit untuk mencari pekerjaan, kondisi lingkungan yang ada dijalan juga tidak baik, dikarenakan banyaknya polusi dari asap motor dan debu-debu yang bertaburan dijalanan. Kondisi alam yang ada dikota sudah tidak alami, sungainya yang kotor dan banyak sampah yang mengapung ditepian pinggir sungai, dikarenakan kurangnya kesadaran diri masyarakat untuk menjaga kebersihan.
Pada tahun 2006, usiaku tepat 6 tahun, ayahku membeli tanah di Jl. Ujung Pandang Gg. Hasyim. Ayahku mulai membangun rumah. Rumah yang pertama kali dibangun ayah hanya sepetak kamar untuk kami tinggali. Belum banyak penduduk di daerah tersebut, rumah penduduk sekitar sangat berjauhan dari rumah ke rumah.
Dengan keadaan berbeda dan kutemukan pula orang-orang yang berbeda, disini aku kembali beradaptasi dengan lingkungan baru. Kulihat masyarakat sekitar sepertinya baik-baik saja, dan mata pencaharian masyarakat disini juga sama seperti ditempat nenekku dulu. Ditempat tinggal yang baru, aku menemukan 3 orang anak perempuan yang umurnya sama denganku, dia adalah, Rina, Sari, dan Mia. Mereka bertigalah yang menjadi sahabat kecilku pada saat itu. Dari ketiga sahabatku ini, mereka memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Pada saat itu mereka sudah seperti saudaraku, kami berteman melebihi dari apapun, susah dan senang kami jalani bersama.
Bertahun-tahun aku tinggal di Ujung pandang, dan semakin tahun pula umurku semakin bertambah, artinya sisa hidupku juga berkurang. Namun seiring berjalannya waktu jumlah penduduk didaerahkupun semakin padat dan semakin ramai.
Setiap tahunnya berbagai macam jenis tradisi yang aku temui di kotaku ini. Pontianak disebut dengan kota Khatulistiwa, karena kotaku ini adalah salah satu kota yang dilalui dengan garis khatulistiwa, yakni garis lintang nol derajat atau biasa disebut sebagai equator. Di kota inilah dibangun sebuah menara yang diberi nama Tugu Khatulistiwa. Tugu Khatulistiwa terletak di Jalan Khatulistiwa Pontianak Utara, jika dari pusat kota, kita harus menempuh perjalanan 30 menit untuk sampai ke Tugu. Selain itu, setiap tahunnya selalu banyak pengunjung dari berbagai belahan dunia yang datang untuk berkunjung ke tugu ini. Tugu khatulistiwa dikota kami menjadi salah satu tempat wisata bagi para turis yang ingin berkunjung.
Pontianak, dulunya adalah kota yang didirikan oleh Sultan Abdurrahman Al-Qadrie yang merupakan Raja Pertama. Pada awal kedatangan Sultan ke Pontianak ia menemukan sebuah pulau ditengah sungai dan berhenti kepulau tersebut. Ketika berhenti dipulau tersebut, ia diganggu oleh para hantu pontianak, akan tetapi sebenarnya ia diganggu oleh para bajak laut dan perampok yang menghalangi jalannya untuk memasuki muara sungai kapuas.
Setelah bermalaman ia melawan para pasukan bajak laut dan perampok tersebut, lalu mengalahkan mereka dan mendirikan sebuah kerjaan di Pontianak. Ditempat ia mengalahkan para musuhnya, ia mengatakan bahwa itu adalah pengalaman yang bersejarah, sehingga ditempat tersebut ia ingin dimakamkan dikomplek Batu Layang.
Batu layang adalah legenda yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Pontianak. Hampir seluruh masyarakat khususnya di Pontianak Utara mengetahui cerita dari legenda batu layang ini yang disampaikan oleh nenek moyang mereka. Batu ini selalu disebut-sebut sebagai batu yang hidup atau tumbuh dan menjadi besar. Masyarakat sekitar mengatakan bahwa dulunya batu ini berwarna hijau, dulu batu ini berada diseberang pulau akan tetapi berpindah tempat kedaerah Pontianak Utara, maka dari itu disebutlah batu layang oleh masyarakat sekitar. Daerah batu layang ini sangat sering dikunjungi oleh masyarakat, baik itu dari luar negeri maupun luar pulau. Selain legenda maupun cerita yang ada di Batu layang tentu saja berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat setempat.
Di kotaku ini juga ada Masjid Jami yang berada di Jalan Tanjung Raya Satu. Masjid Jami adalah masjid tertua di kota Pontianak, masjid ini didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Masjid inilah yang menjadi saksi dari berdirinya Kota Pontianak. Untuk berkunjung ke Masjid Jami kita juga bisa menyebrang sungai dengan menggunakan sampan atau speedboat, kita juga bisa menggunakan jalur alternatif menggunakan motor dengan menyebrang sungai melalui jalan tol. Di dekat masjid jami ada pula Keraton Kadariah yang merupakan istana kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan orang pertama yang mendiami istana itu. Keraton juga menjadi salah satu objek wisata sejarah di Pontianak. Nah ditempat ini pula tidak jauh dari perkampungan beting yang sangat terkenal di Kota Pontianak. Kampung Beting adalah kampung yang paling terkenal dikalangan masyarakat Pontianak khususnya lagi anak-anak muda yang ada di Pontianak. Masyarakat sekitar yang berada di kampung Beting selalu menjadi pusat pembicaraan masyarakaat luar kapung Beting, sebagian besar masyarakat yang ada di Beting itu adalah pemeluk agama Islam.
Pontianak juga disebut dengan Kota Bambu Runcing, dengan berbagai macam suku, etnis, maupun budaya yang berbagai macam jenis. Saat usiaku beranjak dewasa, aku menyadari bahwa kampung halamanku ini sangat unik. Kami bisa hidup disatu wilayah dengan berbagai macam perbedaan yang ada, keharmonisan yang luar biasa dan hidup dengan toleransi yang sangat istimewa. Saat ini aku sedang duduk dibangku kuliah, aku memilih program Studi Agama-Agama. Disini kutemui segala macam keindahan dalam perbedaan yang unik.
Aku bukan lagi anak yang berusia 6 tahun yang dulunya tidak tau apa-apa. Ketika hidup tak ada arti, waktu terus dilewati, namun seperti sia-sia jika satupun karya tak dapat kuhasili. Sebuah perjalanan mengenai kisah kehidupan selalu menjadi sejarah yang tak bisa terlupakan. Banyak cerita indah yang kutemui dikampung halamanku ini.
Mengenai aku, sangat sulit untuk mengetahui diriku. Aku mengakui itu. Tak ada satu orangpun tau arah pemikiranku. Hanya tuhanku yang sangat memahami tentang diriku. Namun seorang temanku pernah memperhatikanku, sehingga ia berkata, “walau tak tampak rembulan dimata, namun aku merasakan sinarnya masuk kedalam sanubari yang didalamnya tiada kumengerti, air kopi yang biasanya untuk mencari inspirasi hilang tak berbekas membuat tangan tak mampu memaparkan apa yang telah terjadi, kegersangan jiwa mengisi hati, membuat pikiran ingin bernostalgia akan masa-masa yang pernah dilalui.
Jelas sudah mengenai kampung halamanku. Hehe, tidak semenarik kampung halaman kalian. Namun kampungku ini sangat istimewa, ketika pergi akan timbul rindu yg mendebu dihati, teringat bahwa sungai terpanjang di Indonesia tercinta ini terletak dikampung halaman tempatku tinggal. Sungai yg selalu membuat orang rindu itu disebut dengan sungai kapuas☺☺